Rabu, 08 November 2017

Pertandingan Kemenangan




September kemarin saya mendapat tugas untuk mendampingi Tim basket sekolah untuk mengikuti pertandingan basket antar sekolah.  Tugas pertama, saya wajib menghadiri Technical Meeting di sekolah penyelenggara. Rasanya sesuatu banget... saya buta soal basket. Saya harus berangkat seorang diri. Sampai pembahasan soal Jersey pun saya gak paham hahahaha. Malahan saya sudah berpikir , Ah pasti kalah deh sekolah lain pasti hebat-hebat .

Dari Kamis setelah Tecnical Meeting sampai hari Sabtu saya masih menunggu jadwal pertandingan dari  pihak penyelenggara. Berkali-kali saya kontak tak ada jawaban. Akhirnya dan akhirnya saya baru mendapat info hari Senin malam kalau anak-anak bertanding hari Selasa pagi. Oalahhhh... Tak punya nomor kontak ortu murid yang ikut basket. Saya pasrah, cuma dapat berpikir di pagi hari saya akan “menculik” anak-anak dari kelas masing-masing untuk pergi bertanding. 

Keesokan harinya. Saat saya “menculik” anak-anak dari kelas mereka masing-masing. Mereka kaget dan beberapa berkomentar kalau tidak bawa sepatu basket. Oh My God, gimana nih? Mereka mungkin akan kalah cepat dalam berlari. Tapi bagaimana lagi kita sudahlah kita tak punya waktu lagi.. Jadi terpaksalah mereka pakai sepatu sekolah biasa.

Karena mendadak sampai pukul 07.00 pagi kami masih belum dapat transport untuk berangkat ke tempat pertandingan. Akhirnya kami naik transport online. Pukul 07.30 kami baru berangkat. Pelatih eskur basket, Pak Oscar mengontak saya dan bertanya ke mana anak-anak yang akan bertanding? Dia sudah siap di lokasi. Sedangkan anak-anak belum berangkat. Padahal jam 08.00 mereka harus bertanding, Oh, My God..


Akhirnya mereka berangkat dan saya menunggu di sekolah, hati saya dag dig dug menunggu. Hari itu saya tak mengantar, ada guru Olah Raga yang mengantar. Tapi menjelang siang saya dapat kabar kalau tim kita menang, masuk ke babak semifinal, puji Tuhan... Tak saya sangka-sangka. Grup orang tua Tim basket bersorak kegirangan di grup Whats up. La...la...la...


Mereka akan bertanding lagi besok jam 14.00. Kali ini saya persiapkan baik-baik mulai dari transport, konsumsi dan komunikasi dengan semua orang tua yang anaknya tergabung dalam tim basket basket untuk penjemputan.


Dan sebelum berangkat ke tempat pertandingan saya ajak tim basket untuk berdoa ke kapel. Setelah itu kami langsung berangkat. Hari itu kami sudah sampai sekitar 2 jam sebelum pertandingan dimulai. 


Waktu yang ditunggu-tunggu tibalah. Sebelum mulai pertandingan ada satu kendala teknis yang  saya baru tahu. Satu anak tak boleh bermain karena nomor punggung di kaosnya berbeda dari yang kemarin. Hiks..hiks... Saya mencoba telepon ke sekolah agar ada yang mengantarkan kaos. Saya harus terus berusaha sekuat tenaga. Lima menit sebelum pertandingan berakhir ada yang mengantarkan kaos tapi dengan model yang berbeda. Alhasil anak itu tetap tak dapat bermain. Tapi puji Tuhan, walaupun hanya 9 orang yang bermain tim kami tetap menang dan lolos ke babak semifinal. Good job anak-anak!:) Thanks Pak Oscar :)


Rasanya happy banget.....

Pulang dari sana sudah pukul 17.30 badan sungguh lelah tapi saya tahu perjuangan belum berakhir. Saya harus mengecek kelengkapan kaos basket yang akan dipakai besok di sekolah. Ternyata ada 2 nomor kaos yang berbeda. Saya tak dapat meminta bantuan siapa pun karena tak ada lagi guru di sekolah, mereka semua sudah pulang.


Saya langsung berinisiatif untuk pergi ke tukang bordir di pusat kota. Terpaksa saya harus membatalkan untuk pergi ke gladi resik acara di gereja yang pada hari Minggu akan dilaksanakan.


Tukang bordir mengatakan kalau tak akan selesai untuk dua pasang baju dan celananya karena harus dibuka jahitan dan dibuat nomor punggung yang baru. Saya memohon akhirnya tukang bordir mau membantu dengan catatan saya ikut membantu. Saya ikut masuk ke dalam outlet membuka jahitan kaos tersebut. Saya tak peduli dengan orang yang lalu lalang di mall tersebut yang mungkin saya kenal. Saya harus menyelesaikan misi ini. Hanya itu yang ada dalam pikiran saya.

Pukul 21.00 tukang bordir tutup. Mau tak mau saya harus membawa sepasang kaos itu ke rumah. Sampai rumah pukul 21.45 malam. Saya melanjutkan menjahit nomor baju. Mata perih, badan sangat lelah. Setiap saya menarik jarum dan benang saya katakan “Tuhan, beri saya kekuatan,” Baru selesai jam 23.30 malam. Huahhh lelahnya.... badan mau rontok rasanya.


Besok paginya, saya bangun dengan badan yang masih lelah. Saya berangkat ke sekolah. Tapi di saat melihat anak-anak itu dengan senang hati memakai baju yang sudah saya jahit, tiba-tiba ada rasa yang membuncah dalam jiwa, rasa haru yang tak terbendung.  Rasa lelah saya mendadak hilang! Mereka semua bersemangat untuk bertanding!

 Saya antar mereka bertanding. Selama pertandingan Coach Oscar terus mengatur strategi agar anak-anak dapat menang. Dia terus menyemangati anak-anak agar tak patah semangat. Tak perlu melihat score, bertanding sebaik mungkin. Itu pesannya. Dan sepanjang pertandingan saya terus berdoa dalam hati agar kami menang. Di tengah-tengah pertandingan ada beberapa anak yang “tumbang” saya tetap memotivasi anak-anak untuk terus bertanding sampai titik darah penghabisan. Ada anak yang menangis saya hapus air matanya. Ada yang keram kakinya saya pijati. Wah, saya benar-benar kerahkan seluruh daya upaya agar mereka bertahan dan terus bertanding. Apalagi Pak Oscar dia sama sekali tak duduk saat pertandingan. Dia terus berdiri diuju ng lapangan memberi semangat dan instruksi pada anak-anak. Tapi lawan terlalu kuat untuk dikalahkan. Kami harus puas di posisi ke 3.

 Memang kami kalah tapi saya mempunyai pemaknaan lain. Kami sudah menang!!!!

Saya dapat sungguh merasakan bagaimana perjuangan anak-anak itu untuk bertahan, untuk mengerahkan seluruh daya juang dengan berani. 

Ini adalah turning point dalam kehidupan saya sebagai pendidik. Saya benar-benar merasakan saya menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mereka seperti anak-anak saya.  Saya dapat merasakan dan menghayati kekecewaan, kekalahan, semangat mereka. Saya bersyukur saya mendapat tugas mulia ini. Thanks God

Buat saya ini adalah sebuah kemenangan besar untuk kita semua, yaitu saat semangat tak terpadamkan oleh apa pun juga.  Bahkan oleh kekalahan sekalipun.Bila kita dapat memaknai bahwa setiap kemenangan adalah kita tetap berpengharapan dalam sebuah kekalahan sekalipun berarti kita semua sudah menang.

Minggu-minggu setelah pertandingan beberapa anak meminta diikutkan kalau ada pertandingan lagi. Nanannana...... Anak-anak terlihat lebih bersemangat dan bergembira....dan kegembiraan itu menular ... Pesan saya kepada anak-anak tim basket : Kalian atlet sekolah, berprestasilah terus, rajinlah belajar dan tetap bersikap yang baik dan sopan

Tuhan memberkati



 



Senin, 28 Agustus 2017

UANG JAJAN



“Mam, boleh nggak aku minta uang jajan Rp. 5000,- aja, hari Selasa saja, hari lain nggak usah,” pinta anakku hati-hati dengan mata bulatnya. Pandangannya penuh harap kepadaku di dapur saat dia membantuku menggoreng telor ceplok kesukaannya.
“Oh, kenapa pilih hari Selasa? “ tanyaku ingin tahu.
“Karena hari Selasa pulangnya siang, Mam, aku pengen beli minum, “ jawabnya jujur. “Hari lain nggak usah dikasih uang jajan, hari Selasa saja,” rajuknya lagi penuh harap.
Aku tak langsung menyiakan. Aku berpikir sejenak jawaban terbaik apa yang harus aku sampaikan padanya. Memang semenjak Ansel, anakku yang pertama naik ke kelas 3 aku mulai berpikir hendak memberinya uang jajan. Tapi aku ingn menyampaikannya dengan baik. Suamiku sempat berpikir hal yang sama, semakin cepat dia mendapat uang jajan semakin cepat dia dapat mengelola keuangan. Begitu pendapat suamiku.
Aku pun sependapat.
Nak, mungkin ini saat yang tepat kamu mendapat uang jajan, kataku dalam hati.
Keesokan harinya aku memberikan uang  Rp. 5000,-. Uang itu diterimanya dengan wajah berseri dan disimpan ke dalam dompetnya bergambar Superman yang kubelikan saat dia berulang tahun yang ke 7.
Beberapa hari kemudian sebelum hari Selasa aku bertanya, apakah uangnya masih utuh? dengan yakin dia menjawab uangnya masih ada di dompet. “Aku akan  pakai hari Selasa, Mam,” jawabnya yakin dengan mata bulat bersinar. Kembali aku berpesan,  “Sisanya ditabung  ya, Nak” :)

(Maria Fenny)

Selasa, 13 Juni 2017

Neurolinguistik Programming(NLP)

Tanggal 4 Des 2016, Puji Tuhan saya berkesempatan memberikan pengantar tentang Neurolinguistik Programming(NLP) di kelas perkuliahan Psikologi Pendidikan, Universitas Kristen Maranatha di depan sekitar 200 mahasiswa saya menceriatakan mengenai asal muasal NLP dan bagaimana proses terapi NLP diterapkan dalam dunia pendidikan.

Materi yang saya sampaikan antara lain :
- Pendiri NLP: Richard Badler dan John Grinder
 - Apa itu NLP ? Neurolinguistik Programming pemograman pikiran melalui bahasa

Dalam dunia pendidikan NLP dapat diperoleh dengan cara :
1. memantapkan anak didik agar lebih dapat meresapi/memahami bahan pelajaran melalui linguistik/anchoring
2. Memberikan suasana belajar yang kondusif di awal melalui metafora (gaya bahasa yang memberikan berbagai arti/makna yang mendalam di balik suatu kata/kalimat)

Minggu, 01 Januari 2017

TREASURING WOMANHOOD 2017

Puji Tuhan ini tahun ketigaku ikut menulis buku renungan khusus wanita TREASURING WOMANHOOD berdasarkan kalender liturgi tahun 2017. Ditulis sejak tahun 2008 oleh 19 perempuan dengan latar belakang berbeda (dokter, pengusaha, psikolog, guru, penulis, selibat, single, ibu rumah tangga dll). Ada cerita mengenai jodoh, pelayanan, mengurus rumah tangga, keluarga dan tentu saja kegalauan wanita lainnya. Temukan tulisan para penulis inspiratif dalam buku ini sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
Dapatkan bonus 13 gelar Maria dan Holy Card Santa Teresa dari Kalkuta.

Minggu, 05 Juni 2016

WORKSHOP MENULIS ROHANI, 28 Mei 2016




WORKSHOP MENULIS ROHANI,  28 Mei 2016 di Hotel Gino Feruci. Bandung.
Materi yang disampaikan adalah "Mencari inspirasi dan Membuat Outline Menulis" oleh Anjar Anastasia, penulis novel dan "Kiat Menembus Dunia Penerbitan" oleh Senior Editor, J. Dwi Helly Purnomo.
Diakhiri dengan praktek menulis oleh semua peserta.

Semua peserta  mendapat goodie bag yang cantik dari Sari Ayu, Faber Castell, Moring snack dll
Diikuti lebih dari 50 penulis yang antusias mengikuti acara ini dari pagi sampai sore. Hasil evaluasi dari kuesioner yang dibagikan atas  acara ini sebagian peserta mengharapkan akan diadakan acara serupa atau lanjutan dari workshop ini :)

Selasa, 26 April 2016

Pembicara di Kelompok Mahasiswa Katolik Kedokteran Maranatha

Puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk berbicara mengenai pengenalan diri. Bagaimana sebagai pribadi yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah kita harus bersyukur, mencintai tubuh dan seluruh diri kita apa adanya. Saya juga mengulas tentang Katekismus Gereja Katolik versi orang muda. Hai anak muda, bacalah, buku ini asli kerennnn banget, semua pertanyaanmu mengenai gereja Katolik ada di sini :)

Saya mengutip apa kata Paus Benediktus XVI ; Anak muda itu harus berani menghadapi tantangan dengan kekuatan dari Tuhan, kita pasti mampu menghadapinya
Thanks God...

Buku Keempatku : NOEL D' AMOR :Kumpulan Kisah Natal

           Buku ini ditulis oleh 6 penulis perempuan dari Peri Penulis yaitu Fanny Florenz, Fonny Jodikin, Lilianawati Rusli, Maria Ch. Michaela, saya sendiri Maria Fenny, Yohanna Yang.

            Dalam buku ini ada Igna, seorang remaja yang berharap mendapat kekasih di hari Natal.

           Anna, seorang dokter di perantauan yang rindu akan tanah kelahirannya.

           Noni, seorang wanita muda yang mencoba menemukan kembali arah hidupnya melalui sebuah mimpi.

           Jess, seorang istri yang bertahan saat badai menimpa rumah tangganya.

           Debora, seorang pelayan Tuhan yang dihadapkan pada keputusan yang berat dalam hidupnya.

           Dan beberapa perempuan lainnya yang membagikan kisahnya untuk kamu dalam buku ini.